Articles

Laporan Alokasi ZIS Ramadhan 1432 H

In Uncategorized on Oktober 6, 2011 by bhs4rab

بسم الله الرحمن الرحيم

ALOKASI ZIS PANITIA ZAKATMUSLIM RAMADHAN 1432H

NO

MUSTAHIQ

DOMISILI

KETERANGAN

KEBUTUHAN

ZAKAT

INFAK/SEDEKAH

LAINNYA

69.285.425

18.972.610

450.000

1

Abu Hilyah

VNI/Bekasi

f/m

5.000.000

5.000.000

2

Rahman H

Kedunghalang/Bgr

f/m

1.500.000

1.500.000

3

Abu Umar

Cililitan

f/m

1.000.000

1.000.000

4

Yayasan Depok

Untuk f/m lingkungan baru

5.000.000

5.000.000

5

Kajian Jakarta

Operasional UNJ/I’tisham

7.000.000

7.000.000

6

Merbot Unj

f/m

2.000.000

2.000.000

7

Abu Abdillah

Limo/Dpk

Kafalah du’at

1.400.000

1.400.000

8

Abu Abdurrahman

Tg.Priok/Jkt

Kafalah du’at

1.000.000

1.000.000

9

Bpk Asep P

Parung/Bgr

f/m

1.000.000

1.000.000

10

Asep

Cianjur/Jabar

Gharim

14.331.000

14.331.000

11

Nurhayati

Sukabumi/Jabar

Gharim

2.000.000

2.000.000

12

Ummu Hamzah

Tanah Baru/Dpk

f/m

10.404.000

5.000.000

13

Indrayani

Perumnas Depok

f/m

8.700.000

3.255.200

44.800

14

Ummu Risyda

Tanah Baru/Dpk

f/m

18.240.000

5.000.000

15

Fauzi

Jln Bacang/Jkt

Gharim

2.000.000

2.000.000

16

Syafrudin

Cijujung/Bgr

f/m

5.000.000

4.000.000

450.000

17

Kurni

Sukabumi/Jabar

f/m

12.240.000

5.000.000

18

Ummu Irfan

Tanah Baru/Dpk

f/m

5.760.000

1.000.000

19

Mursyid

Tanah Baru/Dpk

Gharim

2.640.000

1.600.000

20

Boy A

Tanah Baru/Dpk

Gharim

15.750.000

2.000.000

1.500.000

21

Hamzah

Tanah Baru/Dpk

f/m

9.720.000

1.500.000

22

Abu Hafidz

Tanah Baru/Dpk

Gharim

810.000

810.000

40.000

23

Satya A

Perum Telaga Kahuripan/Parung-Bgr

f/m

4.200.000

1.655.200

44.800

24

Slamet B

Tanah Baru/Dpk

Gharim

2.650.000

1.000.000

25

Solehudin

Tanah Baru/Dpk

Gharim

9.075.000

1.000.000

26

Pembangunan Ponpes Citayam

4.243.010

27

Deden Wijaya

Cempaka Putih/Jkt

Gharim

1.000.000

1.000.000

28

Kasam

f/m

700.000

29

Sandi P

Tanah Baru/Dpk

f/m

500.000

30

Sunardi

f/m

500.000

31

M. Yasin

Tanah Baru/Dpk

f/m

500.000

32

Muhammad.  M

Kayumanis/Jkt

f/m

500.000

33

Ibu Padmi

Prambanan/jateng

f/m

1.000.000

34

Ibu Yati

Bojongkulur/Bgr

f/m

      200.000

35

Ibu Ita Rosita

Banda Aceh/Aceh

f/m

900.000

900.000

36

Abu Imam

Fatahillah/Dpk

f/m

734.025

                                                                                                                                                                                                                Mengetahui

Al Ustadz Jafar Salih

Articles

LAPORAN KAS ZAKAT, INFAQ DAN SEDEKAH PANITIA ZAKAT MUSLIM YAYASAN AL MUHAJIRIN WAL ANSHAR PERIODE RAMADHAN 1431 H

In Uncategorized on September 30, 2010 by bhs4rab

I. TOTAL PENERIMAAN ZAKAT, INFAK/SEDEKAH

NO JENIS JUMLAH
1 ZAKAT 41.450.275
2 INFAQ/SEDEKAH 11.440.010
3 LAINNYA 850.000
4 TOTAL 53.740.285

II. RINCIAN PENGALOKASIAN DANA ZAKAT

NO DATA MUSTAHIQ DOMISILI STATUS PEMENUHAN
1 No Ktp: 32.7204.52118.00001 Sukabumi fakir 7.430.000
2 No Ktp: 32.7604.570965.0001 Depok fakir 5.000.000
3 No Ktp: 32.7603.201271.0003 Depok fakir 5.510.000
4 No Ktp: 10.5105.631259.0001 Depok fakir 5.480.000
5 Ummu Irfan Depok fakir 480.000
6 No Ktp: 33.7500.020872.0001 Depok miskin 5.000.000
7 Ktp No: 32.7771.2010.04605.7101 Depok miskin 1.800.000
8 No Ktp: 33.0402.13082.0002 Depok miskin 2.400.000
9 No Ktp: 09.5419.0563.0215 Kayu manis, jkt gharim 2.500.000
10 No Ktp: 33.7500.020872.0001 Depok gharim 2.500.000
11 No Ktp: 09.5401.190881.8519 Depok gharim 1.500.000
12 No Ktp: 32.7604.570965.0001 Depok gharim 1.200.000
13 No Ktp: 33.0402.13082.0002 Depok gharim 600.000
TOTAL 41.400.000

III. PENGALOKASIAN INFAQ/SEDEKAH DAN LAINNYA

NO KETERANGAN JUMLAH
1 Kafalah 4 orang du’at 1.250.000
2 Bantuan kesehatan 500.000
3 Bantuan 3 fakir/miskin 1.500.000
4 Operasional kantor 850.000
TOTAL 4.100.000

IV. TOTAL PENERIMAAN DAN PENGALOKASIAN

NO JENIS MASUK ALOKASI SISA
1 ZAKAT 41.450.275 41.400.000 50.275
2 INFAQ/SEDEKAH 11.440.010 3.250.000 8.190.010
3 LAINNYA 850.000 850.000
4 TOTAL 53.740.285 45.500.000 8.240.285

Articles

Zakat Profesi…Adakah?

In Uncategorized on Agustus 1, 2010 by bhs4rab

Istilah Zakat Profesi

Istilah zakat profesi adalah baru, sebelumnya tidak pernah ada seorang ulamapun yang mengungkapkan dari dahulu hingga saat ini, kecuali Syaikh Yusuf Qaradhowy menuliskan masalah ini dalam kitab Zakat-nya, kemudian di taklid (diikuti tanpa mengkaji kembali kepada nash yang syar’i) oleh para pendukungnya, termasuk di Indonesia ini.)

Menurut kaidah pencetus zakat profesi bahwa orang yang menerima gaji dan lain-lain dikenakan zakat sebesar 2,5% tanpa menunggu haul (berputar selama setahun) dan tanpa nishab (jumlah minimum yang dikenakan zakat).

Mereka mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian (pertanian). Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen. Disamping mereka mengqiyaskan dengan akal bahwa kenapa hanya petani-petani yang dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya.

Simulasi cara perhitungan menurut kaidah Zakat profesi seperti di bawah ini :

Cara I (tidak memperhitungkan pengeluaran bulanan)

Gaji sebulan = Rp 2.000.000

Gaji setahun = Rp 24.000.000

1 gram emas = Rp 100.000

Nishab = Rp 85 gram

Harga nishab = Rp 8.500.000

Zakat Anda = 2,5% x Rp 24.000.000 = Rp 600.000,-

Cara II (memperhitungkan pengeluaran bulanan)

Gaji sebulan = Rp 2.000.000

Gaji setahun = Rp 24.000.000

Pengeluaran bulanan = Rp 1.000.000

Pengeluaran setahun = Rp 12.000.000

Sisa pengeluaran setahun = Rp 24.000.000 – 12.000.000 = Rp 12.000.000

1 gram emas = Rp 100.000

Nishab = Rp 85 gram

Harga nishab = Rp 8.500.000

Zakat Anda = 2,5% x Rp 12.000.000 = Rp 300.000,-

Zakat Maal (Harta) yang Syar’i

Sedangkan kaidah umum syar’i sejak dahulu menurut para ‘ulama berdasarkan hadits Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassallam adalah wajibnya zakat uang dan sejenisnya baik yang didapatkan dari warisan, hadiah, kontrakan atau gaji, atau lainnya, harus memenuhi dua kriteria, yaitu :

1. batas minimal nishab dan

2. harus menjalani haul (putaran satu tahun).

Bila tidak mencapai batas minimal nishab dan tidak menjalani haul maka tidak diwajibkan atasnya zakat berdasarkan dalil berikut :

[a] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Kamu tidak mempunyai kewajiban zakat sehingga kamu memiliki 20 dinar dan harta itu telah menjalani satu putaran haul” [Shahih Hadits Riwayat Abu Dawud].

20 dinar adalah 85 gram emas, karena satu dinar adalah 4 1/4 gram dan nishab uang dihitung dengan nilai nishab emas.

[b] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan tidak ada kewajiban zakat di dalam harta sehingga mengalami putaran haul” [Shahih Riwayat Abu Daud]

[c] Dari Ibnu Umar (ucapan Ibnu Umar atas sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

“Artinya : Barangsiapa mendapatkan harta maka tidak wajib atasnya zakat sehingga menjalani putaran haul” [Shahih dengan syawahidnya, Riwayat Tirmidzi]

Kemudian penetapan zakat tanpa haul dan nishab hanya ada pada rikaz (harta karun), sedangkan penetapan zakat tanpa haul hanya ada pada tumbuh-tumbuhan (biji-bijian dan buah-buahan) namun ini tetap dengan nishab.

Jadi penetapan zakat profesi (penghasilan) tanpa nishab dan tanpa haul merupakan tindakan yang tidak berlandaskan dalil, qiyas yang shahih dan bertentangan dengan tujuan-tujuan syari’at, juga bertentangan dengan nama zakat itu sendiri yang berarti berkembang. [Lihat Taudhihul Al Ahkam 3/33-36, Subulusssalam 2/256-259, Bulughul Maram Takhrij Abu Qutaibah Nadhr Muhammad Al-faryabi 1/276/279]

Singkatnya simulasi cara perhitungan menurut kaidah yang syar’i adalah penghasilan kita digunakan untuk kebutuhan kita, kemudian sisa penghasilan itu kita simpan/miliki yang jumlahnya telah mencapai nishab emas yakni 85 gram emas dan telah berlalu selama satu tahun (haul), berarti harta tersebut terkena zakat dan wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5% dari harta tersebut. Sedangkan jika penghasilan kita kadang tersisa atau kadang pula tidak, maka untuk membersihkan harta Anda adalah dengan berinfaq, yang mana infaq ini tidak mempunyai batasan atau ketentuannya.

Contoh perhitungan yang benar :

Gaji sebulan = Rp 2.000.000

Gaji setahun = Rp 24.000.000

Sisa pengeluaran setahun setelah dikurangi pengeluaran = Rp 5.000.000

Nishob 85 gram emas = Rp 8.500.000

Maka Anda tidak terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun belum mencapai nishab emas 85 gram tersebut.

Atau

Gaji sebulan = Rp 5.000.000

Gaji setahun = Rp 60.000.000

Sisa pengeluaran setahun = Rp 10.000.000

Nishob 85 gram emas = Rp 8.500.000

Maka Anda terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun telah mencapai nishab emas 85 gram tersebut. Kemudian tunggu harta kita yang tersisa sebesar Rp 10.000.000,- tersebut hingga berlalu 1 tahun. Kemudian baru dikeluarkan zakat tersebut sebesar 2.5 % x Rp 10.000.000,- = Rp 250.000,- pada tahun berikutnya.

Zakat Profesi Bertentangan dengan Zakat Maal (Harta)

Oleh karena itu ditinjau dari dalil yang syar’i maka istilah zakat profesi bertentangan dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassallam, dimana antara lain adalah :

1. Penolakan Syaikh Yusuf Qardhawi akan adanya haul. Haul yaitu bahwa zakat itu dikeluarkan apabila harta telah berlalu (kita miliki -pen) selama 1 tahun. Padahal telah datang sejumlah hadits yang menerangkan tentang haul. Namun hadits-hadits ini dilemahkan menurut pandangan Syaikh Yusuf Qardhawi dengan alasan-alasan yang lemah (tidak kuat alasan pendha’ifannya). Karena hadits itu memiliki beberapa jalan dan syawahid.

Oleh karena penolakan ini, maka menurut pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi, apabila seseorang menerima gaji (rejeki) melebihi nisab (batasan) zakat, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Dari penolakan haul ini (karena dianggap bahwa tidak ada haul), maka Syaikh Yusuf Qardhawi mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian. Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen.

Hal ini merupakan pengqiyasan yang salah. Karena qiyas dilakukan karena beberapa sebab salah satunya apabila tidak ada dalil yang menerangkan hukumnya. Padahal (sebagaimana yang telah disampaikan secara singkat), terdapat sejumlah hadits dan atsar para sahabat (dalil-dalil) yang menjelaskan mengenai haul.

Kemudian jikapun benar dapat diqiyaskan dengan biji-bijian (pertanian), maka kita harus konsekuen dengan kebiasaan yang umum berlaku dalam masalah panen biji-bijian :

a. Dimana hasil biji-bijian baru dipanen setelah berjalan 2-3 bulan, berarti zakat profesi juga semestinya dipungut dengan jangka waktu antara 2-3 bulan, tidak setiap bulan !

b. Dimana hasil biji-bijian akan dikenakan zakat 5 %, maka seharusnya zakat profesi juga harus dikenakan sebesar 5 %, tidak dipungut 2.5 % !

3. Penolakan dengan akal (bukan dengan dalil). Bahwa kenapa hanya petani-petani yang dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya.

Hujjah (alasan) ini tidak ilmiah sama sekali dan tidak ada artinya. Karena dalam masalah ibadah, kita harus mengikuti dalil yang jelas dan shahih. Dengan demikian tidak perlu dibantah (karena Allah memiliki hikmah tersendiri dari hukum-hukum-Nya). Seperti berfikir dengan akal bahwa :

“Kenapa warisan untuk wanita lebih rendah?”

“Mengapa air seni yang najis hanya disucikan dengan air bersih, sedangkan air mani yang suci harus disucikan dengan mandi janabah?”

“Mengapa orang yang mencuri harus dipotong tangannya sebatas lengan, sedangkan orang yang muhson (telah menikah) harus dirajam bukannya dipotong alat kemaluannya?”,

Dan masih banyak lagi hal yang tidak bisa hanya mengandalkan akal kita yang terbatas untuk mengkaji hikmah ilmu dan kemulian Alloh Azza wa Jalla.

Hal ini, ketika sampai di Indonesia, ada sebagian orang yang berlebihan dalam menghitungnya. Misalkan 1 bulan gaji = 1 Juta, maka 12 bulan gaji = 12 Juta. Maka ini telah sampai nisab, lalu dihitung berapa zakat yang harus dikeluarkan.

Hal ini adalah salah karena tidak ada haul. Selain itu, kita tidak mengetahui masa yang akan datang kalau dia dipecat, atau rezekinya berubah. Atau kita balik bertanya, mengapa pertanyaannya hanya petani, apakah jika petani membayar zakat, lantas pekerja profesi tidak bayar zakat ? Padahal mereka tetap diwajibkan membayar zakat, dengan ketentuan dan syarat yang berlaku.

4. Syaikh Yusuf Qardhawi mengemukakan dalam suatu zaman Umar bin Abdul Aziz bahwa sebagian pegawai diambil gajinya 2,5% sebagai zakat.

Hal ini merupakan salah paham terhadap dalil atau atsar. Karena yang diambil itu harta yang diperkirakan sudah mencapai 1 haul. Yakni pegawai yang sudah bekerja (paling tidak) lebih dari 1 tahun. Lalu agar mempermudah urusan zakatnya, maka dipotonglah gajinya 2,5%. Jadi tetap mengacu kepada harta yang sudah melampaui mencapai nishob dan telah haul 1 tahun saja dari gaji pegawai tersebut.

Kemudian jika dilontarkan suatu syubhat : “Bagaimana bisa mencapai batas nishab jika gaji yang kita peroleh selalu habis kita belanjakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan yang sifatnya konsumtif seperti barang elektronik dan lain-lain?”

Hukum syar’i tetaplah hukum yang berlaku sepanjang zaman, yakni zakat harta harus tetap memenuhi syarat nishab. Bila gaji itu dibelanjakan, dan sisanya tidak memenuhi nishab, maka harta itu belum wajib dikeluarkan zakatnya. sebagaimana hadis: “Kamu tidak memiliki kewajiban zakat sehingga kamu memiliki 20 dinar dan harta itu telah menjalani satu putaran haul” (Shahih,HR. Abu Dawud)

“Lantas kapan zakatnya bila sisa gaji itu tidak pernah mencapai nishab?”

Jawabnya: Tidak wajib zakat pada harta yang tidak cukup nishab. Nasehatnya adalah, bila kita merasa mampu berzakat dengan sisa uang gaji yang sedikit, maka hendaknya disalurkan dengan bentuk shadaqoh (yang sunnah).

Alangkah beratnya agama ini bagi orang lain yang sama kondisi ekonominya dengan kita namun dia memiliki banyak keperluan yang harus dia belanjakan untuk keluarganya, bila zakat harta itu tidak memperhitungkan kewajiban nishab.

Biarlah kita yang masih gemar berinfaq ini, menyalurkannya dengan bentuk shadaqoh yang sunat terhadap harta yang belum mencapai nishab tersebut. Tapi jangan sekali-kali mengubah hukum dari yang tidak wajib menjadi wajib, karena ini akan memberatkan kaum muslimin secara umum. Mungkin bagi kita tidak berat, tapi orang lain ?. Sungguh telah binasa umat terdahulu karena mereka melampaui batas dalam agama.

Salah satu dari sekian banyak hikmah adanya syarat nishab adalah agar harta kaum muslimin itu terus berputar dalam perbelanjaan mereka, dan tidak mengendap dalam jumlah yang besar pada satu atau beberapa orang. Ini akan akan berdampak jumlah uang beredar akan menjadi sedikit, kesenjangan semakin meningkat, dan lain-lain.

Bila seseorang itu memiliki harta dia boleh:

1. membelanjakan dijalan yang halal untuk keluarganya,

2. atau Mengusahakan harta itu dengan permodalan (misalnya mudharabah dll)

3. atau Mengeluarkan zakat bila telah terpenuhi syarat-syaratnya

4. atau Menabungnya bila belum terpenuhi syarat-syaratnya, agar kemudian bisa dikeluarkan zakatnya

5 Atau dia shadaqohkan/berinfaq (sunnah hukumnya)

Oleh karena itu memperhitungkan gaji semata dalam satu tahun tanpa memperhitungkan bentuk harta yang lainnya adalah cara yang keliru dalam menghitung zakat maal. Zakat termasuk dalam ibadah, dan kaidah dalam menjalankan ibadah adalah menjalankan segala perintah yang dituntunkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Dalam hal ini Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak memberikan contoh ataupun tuntunan dalam memperhitungkan zakat maal dalam penghasilan semata.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan bahwa zakat barang tambang yang wajib dizakatkan adalah emas dan perak, sedangkan tanaman yang wajib zakat adalah gandum, sya’ir, kurma, dan zabib, dan tidak ada satupun Riwayat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahwa harta penghasilan adalah harta wajib zakat. Jadi tidak ada dalil yang menerangkannya. Hitunglah berapa penghasilan kita dalam satu tahun lantas dikurangi pengeluaran itulah harta yang tersisa dalam dalam satu tahun, bandingkan dengan nishab emas 85 gram, bila sama atau melebihinya maka wajib zakat,jika tidak maka tidak perlu zakat, namun dengan bershadaqah juga dapat membersihkan harta. Wallahu a’lam.
Sumber:
http://aliph.wordpress.com/2007/02/08/zakat-profesi-adakah/

Articles

HARTA-HARTA YANG WAJIB DIKELUARKAN ZAKATNYA

In Uncategorized on Juli 29, 2010 by bhs4rab

A. ZAKAT EMAS, PERAK DAN UANG

Nishab emas adalah 20 Dinar atau 85 gram emas sedangkan perak 200 dirham atau 595 gram perak. Emas, perak dan mata uang yang telah mencapai nishab wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 % apabila telah mencapai haul atau 1 tahun baik uang itu disiapkan untuk nafkah, nikah, membeli tanah atau membayar hutang maupun untuk yang lainnya.

Hukum zakat perhiasan yang dipakai

Emas, berlian dan batu-batu berharga serta yang sejenisnya bila hanya dipakai maka tidak ada zakatnya. Adapun bila diperdagangkan maka ditaksir harganya dengan nishab salah satu dari emas atau perak, jika telah mencapai nishab dan berlalu satu tahun maka zakatnya 2.5 persen.

B. ZAKAT BINATANG TERNAK

Unta, sapi, dan kambing/domba wajib dikeluarkan zakatnya apabila terpenuhi tiga syarat:

  1. Dipelihara untuk diambil susunya, dikembangbiakan dan digemukkan.
  2. Dalam setahunnya atau mayoritas kehidupannya dalam setahun, hidup dari merumput sendiri bukan dicarikan.
  3. Jumlahnya telah mencapai nishab.

a. Nishab unta dan zakat yang harus dikeluarkan:

5 sampai 9 ekor, zakatnya 1 ekor kambing/domba. Kemudian pada setiap kelipatan 5, zakatnya 1 ekor kambing/domba. Dan apabila jumlah unta mencapai 25 ekor, zakatnya seekor bintu makhath (unta betina yang telah genap setahun) atau seekor ibnu labun (unta jantan yang telah genap 2 tahun). Dan apabila telah mencapai 36 ekor, zakatnya seekor bintu labun (unta betina yang telah genap 2 tahun). Dan apabila mencapai 46 ekor, zakatnya seekor hiqqah (unta betina yang telah genap 3 tahun). Dan apabila mencapai 61 ekor, zakatnya seekor jadza’ah (unta betina yang telah genap 4 tahun). Dan apabila mencapai 71 ekor, zakatnya 2 ekor bintu labun. Dan apabila mencapai 91 ekor sampai 120 ekor, zakatnya 2 ekor hiqqah. Dan apabila lebih dari 120 ekor, pada setiap kelipatan 40 zakatnya seekor bintu labun, dan pada setiap kelipatan 50 zakatnya seekor hiqqah.

b. Nishab sapi dan zakat yang harus dikeluarkan.

Apabila jumlah sapi mencapai 30 ekor, zakatnya 1 ekor tabi’ atau tabi’ah (anak sapi jantan/betina usia 1 tahun). Dan apabila mencapai 40 ekor, zakatnya 1 ekor musinnah (anak sapi usia 2 tahun). Dstnya.

c. Nishab kambing/domba dan zakat yang harus dikeluarkan.

Apabila jumlah kambing/domba mencapai 40 ekor, zakatnya 1 ekor. Dan apabila mencapai 121 ekor, zakatnya 2 ekor. Dan apabila mencapai 201 – 399 ekor, zakatnya 3 ekor. Kemudian pada setiap kelipatan 100, zakatnya 1 ekor.

.

C. ZAKAT BARANG DAGANGAN

Barang dagangan adalah barang yang dipersiapkan untuk jual-beli demi keuntungan, berupa tanah, hewan, makanan, minuman dan alat-alat serta lainnya. Syarat diwajibkan zakat pada harta dagangan ada 4:

a. Dimiliki dengan kehendaknya seperti dengan cara membelinya.

b. Dimiliki dengan niat untuk berdagang.

c. Nilainya mencapai nishab salah satu dari emas atau perak.

d. Telah berlalu 1 tahun.

Cara mengeluarkan zakat barang dagangan:

Barang dagangan apabila telah berlalu 1 tahun dihitung dan ditakar dengan nishab emas atau perak kemudian dikeluarkan 2.5% darinya.

D. ZAKAT PERTANIAN DAN BUAH-BUAHAN

Wajib zakat pada semua jenis biji-bijian dan pada tiap buah yang dapat disimpan seperti beras, gandum, kurma dan kismis dan yang lainnya apabila tercapai nishab pada saat panen. Dan nishab hasil pertanian dan buah-buahan adalah 5 wasaq atau 720 kg.

Adapun hasil pertanian yang rusak jika disimpan (ditimbun) seperti pisang, apel, semangka, sayur-sayuran, bawang, wortel, timun, terong dan yang lainnya maka tidak ada zakatnya.

Kadar wajib zakat pada hasil bumi.

a. 10 persen. Wajib pada hasil panen yang diairi tanpa biaya, seperti yang diairi dengan air hujan atau mata air serta lainnya.

b. 5 persen. Wajib pada hasil panen yang diairi dengan biaya, seperti dengan air sumur yang dikeluarkan dengan alat (mesin) atau lainnya.

Articles

KAPAN SAYA WAJIB BERZAKAT?

In Uncategorized on Juli 29, 2010 by bhs4rab

Zakat menurut syariat adalah kewajiban pada harta tertentu untuk diberikan kepada kelompok tertentu pada waktu tertentu. Zakat merupakan salah satu dari rukun-rukun Islam dan hukum menunaikannya adalah wajib. Barangsiapa mengingkari wajibnya maka ia telah kafir, baik dia berzakat maupun tidak dan barangsiapa yang tidak mau membayar zakat karena bakhil dan pelit, atau karena sayang terhadap harta dan dia masih mengakui wajibnya zakat maka ia telah berdosa besar, terancam dengan siksa yang besar dan mengerikan di akhirat. (Qs. Ali Imraan : 180)

Syarat wajib zakat

Merdeka, muslim, mencapai nishab, dan nishab adalah kadar tertentu pada suatu harta zakat.  Kepemilikan yang mapan dan stabil  dan telah berlalu satu haul (tahun), kecuali pada hasil pertanian, maka wajib dikeluarkan zakatnya setiap kali panen.

Harta yang dizakati

a. Emas, perak dan yang semisalnya, seperti uang dan lainnya.

b. Barang dagangan, semua barang dagangan.

c. Binatang ternak, yakni sapi, unta dan kambing.

d. Hasil pertanian yang bisa ditakar atau ditimbang  dan disimpan.

Dan tidak ada zakat pada penghasilan tetap seseorang (profesi) begitu pula pada gaji pegawai dan upah pekerja kecuali apabila telah mencapai nishab dan berlalu 1 tahun, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah memerintahkan ataupun menganjurkan.